Detail

image 1 image 2 image 3 image 4

berawal dari sebuah buku

     Sastra Indonesia begitu banyak jenisnya, mulai dari puisi, gurindam, syair, cerpen, novel, fabel, dan lain sebagainya. Layaknya lautan di Indonesia, sastra juga mendominasi peradaban di negeri tercinta. Kita temukan di berbagai sudut negeri yang mengandung berbagai inspirasi untuk pembuatannya. Banyak pula penulis-penulis mayor yang telah lihai menari diatas lembaran kertas, yang telah pandai menghunjam ketikan di media digital. Tak dapat dipungkiri pula, banyak sastra yang membekas di sebuah ruang hati insan dan tak dapat lapuk walau termakan usia.

     Aku adalah salah satu dari mereka. Aku amat cinta terhadap karya-karya yang indah, terutama fiksi remaja tentang percintaan yang terus digantung di lembah cinta tanpa adanya kepastian rasa. Aku juga suka cerpen yang memandang simetris realita kehidupan umat manusia. Oh, begitu pula puisi yang menyiratkan makna mendalam bagi setiap pembaca. Gurindam kendati demikian, eloknya kata yang digunakan setiap bait mampu membuat hati terlena. Syair turut mengikuti jejak kawannya, senandung hangat dari pada penulis mampu membungkam sejuta umat yang mendengarnya. Fabel pula paling seru diantara semua, karena bisa mengibaratkan tingkah manusia dengan hewan. Sungguh memesona sastra ini. Aku sampai mabuk karena setiap hari diomeli orang tua karena aku membeli mereka setiap akhir pekan, sampai-sampai dikatakan bahwa buku adalah cowokku.

     Namun keseruan percintaan novel, pandangan cerpen, kiasan puisi, syair dan gurindam serta serunya fabel yang aku dapatkan seakan tidak berpengaruh pada generasi sekarang ini. Semuanya seolah masa bodo dengan karya sastra yang sangat menggiurkan. Banyak yang bahkan tidak melirik sastra Indonesia. Aku pun masih melihat banyaknya manusia yang enggan membaca sastranya sendiri namun, memilih sastra orang lain. Lensa mataku juga selalu menangkap banyaknya manusia yang lebih memilih buku digital ketimbang fisik, tentu itu lumayan tidak baik. Karena bisa saja bukan buku yang dibaca, namun game lah yang dimainkan. Terutama bagi para generasi-generasi muda saat ini, begitu enggan membaca dan enggan menyentuh sastra sama sekali. Manakala mereka memandang buku, mereka laksana memandang sebuah gangguan besar yang datang secara tiba-tiba.

     Aku tak mengerti pola pikir yang mereka terapkan pada diri mereka masing-masingnya, seakan kehilangan sastra hanya sebatas kehilangan kerikil di jalan. Padahal ketika sastra kita hilang, mungkin saja Indonesia tidak akan dikenal dunia lagi karena masyarakatnya yang bodoh enggan melestarikan budaya. Jika engkau ingin menyangkal, aku berikan sesendok fakta. Batik Indonesia pernah diakui Malaysia, ukir perak bali pernah diklaim Amerika Serikat, lagu Rasa Sayange yang pernah diakui Malaysia, apakah sekarang kau dan aku ingin menjual sastra untuk negara lain?

     Aku mengerti membaca adalah suatu hal yang membosankan, jenuh dan tidak semua buku menarik pandangan mata dan hati. Aku punya sepucuk surat saran, jika kalian malas membaca maka kisah kalian tidak akan terbuka, temukan kisah itu dibalik tumpukan buku, terutama romansa. Seterusnya, cobalah untuk membaca beberapa lembar dan beberapa buku. Dimulai dari satu, karena jika kita sudah memulai maka kita enggan untuk meninggalkan.

     Aku hanya ingin mengingatkan, sastra bukan hal yang diperjualbelikan namun yang harus dipertahankan. Dan sastra akan memulai kisah elok Nusantara. Jika kau tak percaya maka cobalah temukan kisahmu dibalik gudang sastra.


Karya : Yasmin Rufaidah - Kelas 9A
 
Share:
Categories
Berita Terbaru
pembinaan kadisdik

Pembinaan ASN & Non ASN SMP Negeri 18 Semarang oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bapak...

congratulations

Dengan kasih-Mu, Hari ini anak-anak generasi emas SMP 18 Semarang di tengah pandemi  covid-1...

hari kebangkitan nasional

Keluarga besar SMP Negeri 18 Semarang mengucapkan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional tan...