Detail

image 1

hijaukan bumiku wujud implementasi jiwa semangat nilai 45 era milenial

Hijaukan Bumiku Wujud Implementasi Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai ’45 di Era Milenial pada SMP N 18 Semarang

 
Hari ini, 10 November 2020 adalah hari adalah hari pahlawan. Berawal dari meninggalnya Jenderal Mallaby saat pertempuran 30 Oktober 1945 hingga peristiwa penyobekan bendera Belanda bagian kain biru agar menjadi bendera merah putih di Hotel Yamato. Peristiwa bersejaran tersebut merupakan salah satudari rententen peristiwa perjuangan berdirinya bangsa Indonesia. Hal tersebut yang juga melatar belakangi adanya konsep “Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai ’45” yang di tujukan pada seluruh rakyat Indonesia agar semakin mencintai Negara Indonesia.

Menurud IR. Nurmawati, MM dalam presentasinya di Universitas 45 Surabaya mengungkapkan  Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai ’45 yaitu, Jiwa adalah yang membuat manusia hidup, dapat merasakan, berfikir dan berkehendak. Semangat berarti yang ada dalam diri manusia sehingga mempunyai minat dan keinginan yang besar. Nilai adalah dampak / kesan yang baik, sifat yang dimiliki dan patut disandang, digunakan dan dianut. Angka 45 adalah Tahun 1945 lahirnya Pancasila. Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai ’45 tidak dapat diartikan sepotong demi sepotong, karena Jiwa adalah yang membuat manusia berfikir dan berkehendak, Semangat adalah nilai yang keras sebagai pemacu untuk berbuat sedangkan Nilai adalah produk / hasil yang menimbulkan dampak. Jadi ketiganya harus dibaca secara utuh dan merupakan Jati Diri bangsa Indonesia, karena JSN’45 adalah identik dengan JSN Kejuangan Bangsa Indonesia.

Generasi Millennial adalah generasi yang terbentuk dari mereka yang lahir pada 1980 – 1990 hingga awal 2000an. Generasi Millennial terdiri dari ini Gen Y atau echo boomers dan generasi Z yang lahir setelah periode paska 2000an. Prilaku yang akrab dengan teknologi membuat ritme kerja lebih cepat, efektif, multi tasking merupakan beberapa ciri generasi milenial. Walaupun kurangnya loyalitas terhadap kegiatan yang sedang diikuti dan mudah bosan juga merupakan bagian yang tidak dapat pisahkan dari generasi ini. Hal tersebut tidak selamanya berdampak buruk. Beberapa kasus berimbas sangat baik, contoh banyaknya inovasi yang diciptakan berakibat positif pada berkembangnya industri dan perekonomian.

Dewasa ini Nasionalisme bukan topik yang familiar pada generasi miliniel. Mengejawantahkan Nasionalisme dalam arti sempit hanya dengan ikut belajar sejarah atau mengikuti upacara bendera dengan khitmad merupakah stigma yang harus dihilangkan. Bukan berarti belajar sejarah dan ikut upacara bendera adalah hal yang buruk. Namun ada banyak hal yang sebenarnya dapat generasi mileniel lakukan untuk menjadi nasionalis dan memiliki jiwa semangat dan nilai-nilai ’45 dari hal-hal sederhana, salah satunya dengan berkebun di sekolah.

Berkebun di Sekolah merupakan kegiatan yang cukup menyenangkan. Apalagi di era Covid-19 seperti ini. Selain menambah aktifitas fisik untuk meningkatkan imun, berkebun di sekolah juga menghasilkan beberapa sayur organik yang lebih sehat. Selain itu kita dapat mengindari pergi ke pasar yang ramai untuk membeli sayur mayur. Kecintaan kita terhadap keasrian lingkungan sekolah juga tetap terjaga. Berkebun juga bisa di lakukan di rumah. Menggunakan botol bekas sebagai media hidroponik atau menanam sayur di pot juga merupakan alternatif yang dapat dipilih untuk mensiasati keterbatasan lahan.

Metode pelestarian JSN ’45 menurut IR. Nurmawati, MM dapat dilakukan dengan  4 cara, yaitu metode edukasi, metode keteladanan, metode sosialisasi dan metode pemasayarakatan. Berkebun di sekolah merupakan implemetasi dari metode edukasi dan motode keteladaan yang bisa diterapkan di lingkungan sekolah. Guru dan beberapa siswa sebagai generasi milenial penggerak akan menggunakan sosial medianya untuk men-update kebun yang telah mereka tanam di sekolah.  

Dalam pola dan pelaksaan pedoman umum pelestarian JSN ’45 faktor keadaan lingkungan dan faktor sosial seperti sugesti dan imitasi sangat mempengaruhi. Apalagi saat sasarannya adalah generasi milenial. Saat ada sesuatu yang menarik di sosial media dan berhasil menarik pengakses hingga menajadi sebuah tren, maka akan timbul sugesti bahwa hal tersebut valid untuk ditiru hingga terjadilah proses imitasi. men-update aktifitas berkebun di sekolah pada sosial media diharapkan akan menimbulkan dorongan untuk mengikuti hal yang sama dan  terinspirasi untuk melakukannya di rumah masing-masing. Sehingga jiwa semangat dan nilai-nilai ’45 tidak hanya sekedar teori namun dapat terimplementasi dengan baik di kehidupan sehari-hari dan dapat dimulai dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. 
----
Jangan lupa saksikan teaser video dokumentasi tentang berkebun di sekolah sebagai wujud implementasi kita terhadap Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai ’45 di SMP Negeri 18 semarang melalui link youtube berikut ini. Selamat menyaksikan

https://www.youtube.com/watch?v=2V5nTK5TT3E&t=3s

Share:
Categories
Berita Terbaru
pembinaan kadisdik

Pembinaan ASN & Non ASN SMP Negeri 18 Semarang oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bapak...

congratulations

Dengan kasih-Mu, Hari ini anak-anak generasi emas SMP 18 Semarang di tengah pandemi  covid-1...

hari kebangkitan nasional

Keluarga besar SMP Negeri 18 Semarang mengucapkan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional tan...